Saya dulu selalu membayangkan bahwa film pertama saya adalah sebuah film kecil,
mungkin hanya dengan tiga buah set dan tiga orang aktor. Ketika Janji Joni mendapat
lampu hijau dari produser, saya sempat ragu apakah saya akan mampu menyutradarai
sebuah proyek dengan banyak lokasi dan aktor sebagai debut.
Syukur, saya dikelilingi oleh kru yang kompeten dan sangat mendukung.
Syuting berlangsung selama 20 hari, waktu yang sangat singkat untuk syuting
sebuah feature film, apalagi untuk sebuah film comedy/adventure. Ditambah, 90%
dari scene Janji Joni adalah siang hari, sehingga setiap hari kru harus bergerak
cepat, berlomba dengan matahari terbenam. Pada hari ke-12, hujan turun dari
subuh sampai lewat tengah hari sehingga kami kehilangan satu hari syuting dan
harus dikompensasi dengan satu hari syuting tambahan.
Syuting Janji Joni memenuhi semua keindahan yang seharusnya ada dalam proses
pembuatan sebuah film independen: stress-free (kecuali bagi para manajer lokasi
yang harus berhadapan dengan preman dan polisi), dan fun.
Schedule yang ketat mengharuskan kami syuting secara efisien, pengambilan gambar
mengikuti storyboard dan floor plan. Seringkali kami kekurangan waktu, biasanya
karena cuaca yang tidak bisa diprediksikan, dan saya pun harus memutuskan untuk
hanya mengambil shot-shot yang sangat perlu untuk mendukung storytelling Janji
Joni.
Syuting Janji Joni sendiri adalah merupakan sebuah adventure. Di beberapa tempat
di mana kami tidak mendapat ijin, syuting dilakukan secara gerilya, alias syuting
dulu sebelum diusir. Untungnya, semua kru dan aktor mempunyai visi yang sama
sehingga semua kami jalani dengan senang hati.
Kami puas karena jiwa syuting tercermin di film Janji Joni. Visi yang kami bayangkan
sebelumnya, tercapai. Saya lebih senang lagi karena Janji Joni berhasil menjadi
sebuah kerja kolektif. Setiap elemen syuting memberikan kontribusi yang besar.
Secara pribadi, Janji Joni saya tujukan sebagai homage atas film-film yang saya
tonton saat saya tumbuh besar. Saya berharap, penonton bisa menikmati Janji
Joni, seperti saat kita menikmati film waktu kecil.
Joko Anwar
Biography
Joko Anwar lahir pada 3 Januari 1975 di Medan, Sumatera Utara, dan sudah berjalan
sejauh satu kilometer untuk menonton film Kung Fu dan B-movies secara rutin
sejak berumur 5 tahun tanpa sepengetahuan keluarganya. Sejak mulai bisa menulis,
Joko selalu menulis kembali cerita film yang ditontonnya setelah selesai menonton
dalam buku tulisnya yang mencapai puluhan jumlahnya.
Kecintaan Joko terhadap film membuatnya bercita-cita untuk jadi aktor sejak
kecil. Namun lama-kelamaan dia berpikir untuk menjadi seorang pembuat film.
Mengira IKJ terlalu mahal baginya, Joko memutuskan untuk masuk Institut Teknologi
Bandung (ITB) karena ITB memiliki sebuah klub film mahasiswa yang memungkinkan
anggotanya untuk belajar membuat film.
Karena sesuatu hal, Joko tidak diterima di klub mahasiswa ITB tapi Joko tetap
membuat film dengan menggunakan handycam pinjaman. Video pendeknya yang pertama
berjudul Amok! (1995), cerita berdarah tentang seorang mahasiswa yang menjadi
pembunuh. Pada tahun 2002, Amok! di-remake dan dinominasikan sebagai Film Terbaik
dalam Festival Film Independen Indonesia pertama. Video keduanya adalah sebuah
dokumenter berjudul Solidarity Forever! (1996) yang menceritakan impact dari
kematian seorang mahasiswa ITB saat perpeloncoan.
Setelah lulus dari Jurusan Aeronautical Engineering di ITB, Joko mencoba melamar
ke beberapa rumah produksi. Namun latar belakang pendidikannya yang tidak sesuai,
membuat tak ada satupun rumah produksi yang mau memperkerjakannya.
Joko kemudian memutuskan untuk menjadi seorang wartawan agar leluasa mencari
jalan untuk mengenal orang-orang film. Joko juga sudah mempunyai kolom tetap
sebagai kritikus film di harian The Jakarta Post sejak tahun 2000. Tahun 2001,
Joko diterima sebagai storyliner di rumah produksi Pearson Television Asia setelah
bosnya mengenal namanya lewat kolomnya.
Dalam empat bulan, Joko sudah dipromosikan menjadi Senior Script Editor, di
samping tetap menulis di The Jakarta Post sebagai contributing writer. Di masa
ini, Joko sudah menyelesaikan beberapa skrip film panjang, antara lain berjudul
Janji Joni, Andri dan Haryo Terus Berdansa, Selasa Jam 3 Sore dan Stip Pensil.
Saat mewawancarai sutradara/produser/penulis Nia Dinata tentang film Ca Bau
Kan, Nia dan Joko malah berdebat tentang skrip. Nia menyuruh Joko untuk menunjukkan
skrip yang pernah dibuatnya, dan Joko menunjukkan skrip Janji Joni, sebuah komedi
petualangan tentang seorang pengantar rol film. Tapi tanpa disangka-sangka,
Nia malah mengajaknya untuk menulis bersama film Nia selanjutnya yang berjudul
Arisan!.
Sekalipun tidak pernah bersekolah film, Joko akhirnya memasuki dunia yang diimpikannya.
Dimulai dengan menjadi Second Assistant Director di film Biola Tak Berdawai
(2002), co-writer dan First Assistant Director untuk film Arisan!. Karya-karyanya
yang lain termasuk film pendek Joni Be Brave (2003) yang ditulis dan disutradarai
Joko Anwar dengan produser Nia Dinata, Afi Shamara, dan Jajang C Noer; beberapa
iklan layanan masayarakat dan musik video.
Janji Joni adalah debut penyutradaraan film panjang Joko Anwar. Saat ini, Joko
juga sedang menyelesaikan beberapa skrip untuk beberapa sutradara lain.
Filmografi
Amok! (Short, 2002) (Co-Director/Producer/Writer)
Joni Be Brave (Short, 2003) (Writer/Director)
Arisan! (2003) (Co-writer)
Janji Joni (2005) (Writer/Director)