SYNOPSIS I CASTS I CREW I NOTES

PRODUCTION NOTES

Janji Joni, proyek film layar lebar keempat Kalyana Shira Films (setelah Ca Bau Kan, Biola Tak Berdawai dan Arisan!), memulai pre-production Mei 2004.

Production designer Ary Juwono mulai bekerja secara intensif mengacu kepada skrip. “Saya mau Janji Joni memiliki look yang merupakan hybrid antara Jakarta sekarang dan Jakarta tahun 1970. Jadi sekalipun cerita Janji Joni mengambil setting Jakarta sekarang, penonton bisa merasakan atmosfer 70-an di film ini,” kata Joko Anwar, penulis skenario dan sutradara Janji Joni.

Berangkat dari konsep tersebut, tim Janji Joni mulai melakukan pencarian lokasi untuk pengambilan gambar. Lokasi-lokasi yang terlalu kontemporer dihindari sehingga penonton tidak akan bisa melihat bahwa Janji Joni diproduksi tahun 2005. Eksterior bioskop Megaria dipakai dengan pertimbangan bahwa bangunannya cukup tua. Untuk eksterior lobi bioskop, Ary Juwono menyulap sebuah lantai kosong di sebuah gedung tua di daerah Kota. “Kami bahkan mendesain poster-poster film yang dipajang di bioskop karena kalau menggunakan poster-poster film beneran, penonton akan bisa menandai film itu dibuat tahun berapa,” kata Ary Juwono.

Kostum para pemain yang dipilih oleh wardrobe stylist Janji Joni, Lala Sirat, juga mendukung konsep film Janji Joni.

Penata sinematografi Ipung Rachmat Syaiful (pemenang Piala Citra 2004 untuk sinematografi Mengejar Matahari) dipilih karena memiliki spontanitas yang cocok untuk film Janji Joni. “Ipung berani untuk mengambil keputusan yang ‘tidak biasa’ dan dia sangat mampu bekerja dengan baik dengan jadwal yang padat,” kata Nia Dinata, produser Janji Joni.

Janji Joni di-syut dengan medium film seluloid 35mm, dan memakan waktu hanya selama 20 hari pada bulan Januari 2005, sebuah periode yang sangat singkat untuk produksi feature film, apalagi dengan adegan-adegan semi-action dengan lokasi yang banyak. “Jadwal yang singkat ternyata mendukung konsep film Janji Joni karena lebih terasa rush-nya, sesuai dengan perasaan karakter utama, Joni, yang selalu dikejar-kejar waktu,” kata Joko Anwar.

Original score Janji Joni diaransemen oleh Age yang juga mengerjakan animasi untuk film Janji Joni. Band-band terbaik indie direkrut Age untuk mengisi soundtrack Janji Joni. “Terlepas dari label independen, mereka adalah musisi-musisi terbaik yang ada sekarang dan musik mereka memberikan kontribusi yang sangat besar untuk jiwa film Janji Joni,” kata Joko.

Editor muda berbakat Yoga Koesprapto yang juga mengerjakan serial MTV Ajang Ajeng direkrut untuk Janji Joni. “Jiwa Yoga pas sekali dengan jiwa Janji Joni,” kata Nia Dinata. Proses editing memakan waktu selama sebulan penuh pada Februari 2005. “Syuting Janji Joni sangat efektif sehingga hampir tidak ada shot yang tidak terpakai,” kata Yoga Koesprapto.

Post-production Janji Joni dikerjakan di Bangkok yang meliputi negative cutting, color grading dan sound mixing dengan menggunakan tata suara Dolby Surround Digital. Janji Joni, yang memiliki durasi 85 menit, diharapkan mampu menyuguhkan hiburan yang segar untuk para penonton film di Indonesia.

Dengan Janji Joni, Kalyana Shira Films ingin kepercayaan penonton semakin besar untuk tetap datang ke bioskop untuk menonton film Indonesia. Hal ini yang sangat dibutuhkan oleh perfilman Indonesia yang masih membangun fondasi untuk sebuah industri.

<< BACK I BACK TO TOP