 |
 |
 |
 |
| |
 |
|
 |
 |
 |
 |
|
 |
Rilis Pers
|
Perempuan Punya Cerita
PEREMPUAN PUNYA CERITA (CHANTS OF LOTUS) FILM TENTANG PEREMPUAN OLEH
EMPAT SUTRADARA PEREMPUAN
Jakarta, 12 Desember 2007
PEREMPUAN PUNYA CERITA merupakan sebuah produksi yang unik karena ini adalah sebuah film antologi yang terinspirasi dari berbagai masalah yang menyelimuti kehidupan perempuan Indonesia. Film antologi ini terdiri dari empat film pendek yang berbeda, diikat bersama oleh satu premis, yaitu permasalahan perempuan. Empat sutradara perempuan menyutradarai film ini adalah: Nia Dinata, Upi, Lasja F. Susatyo dan Fatimah T. Rony.
PEREMPUAN PUNYA CERITA mengambil filosofi hidup bunga teratai sebagai dasar untuk tema film. Sebagai bunga, teratai tumbuh dengan keanggunan dan harga diri di tengahtengah lingkungan yang kotor dan penuh lumpur. Ini seperti gambaran dari para perempuan di dalam tiap film pendek, mereka harus mempertahankan harga diri mereka bahkan dalam kondisi terburuk sekalipun. PEREMPUAN PUNYA CERITA adalah respon yang tajam dan serius atas keadaan banyak perempuan di Indonesia. PEREMPUAN PUNYA CERITA menampilkan empat kisah perempuan: Cerita Pulau (Chant From An Island), Cerita Yogya (Chant From A Tourist Town), Cerita Cibinong (Chant From A Village), Cerita Jakarta (Chant From The Capital City).
Keempat cerita tersebut mengangkat tema-tema perempuan mulai dari kesehatan (kanker, HIV/AIDS), perdagangan anak, hingga aborsi dan seksualitas (kesadaran akan tubuh dan kesehatan reproduksi). “Film ini dibuat memang dengan tujuan untuk membangkitkan kesadaran akan isu-isu perempuan. Sebenarnya berbagai isu itu bukan hal yang baru dalam masyarakat, tetapi medium film mempunyai kekuatan tersendiri untuk menggugah penonton akan permasalahan yang lebih nyata dan menggugah emosi. Sebagai contoh, film Water yang disutradarai oleh Deepa Mehta. Selesai menonton film ini, kita terguncang melihat penggambaran tentang kenyataan kehidupan perempuan para janda di India pada akhir tahun 1930-an yang diperlakukan sebagai orang buangan dan tidak punya hak apapun selain menjadi pengemis. Kondisi ini membuka mata kita dan membangkitkan kesadaran pada kita akan tragisnya kondisi perempuan India pada masa itu. Contoh film lain adalah Babel yang disutradarai oleh Alejandro González Iñárritu. Film dengan 4 sub plot ini memprovokasi dan menggugah kita akan kenyataan isu-isu global, tapi di lain pihak tetap dekat dengan realitas kita. Pengalaman saya dan kawan-kawan perempuan lain yang sudah menjadi ibu, selesai menonton film ini reaksi kita sama: ingin segera pulang ke rumah dan memeluk anak-anak kita. Bagi saya, kedua film itu menggugah agar kita bisa terus berupaya untuk membuat kehidupan yang lebih baik pada masa sekarang ini, maupun bagi kehidupan anak-anak kita kelak. Hal yang sama juga yang kita harapkan bisa terjadi pada para penonton film PEREMPUAN PUNYA CERITA. Setelah selesai menonton, kami berharap penonton tergugah kesadarannya dan tidak hanya berhenti sampai di situ, tapi berusaha membuat perubahan sekecil apapun, dalam kapasitas pribadinya, bagi perbaikan kondisi, terutama kondisi perempuan Indonesia,” jelas Nia panjang-lebar.
Lewat empat kisah ini, para sutradara dan tim penulis naskah (Vivian Idris dan Melissa Karim) menunjukkan bahwa permasalahan perempuan lebih rumit dari sekadar melodrama yang biasanya banyak dibuat untuk televisi. Selain pemahaman mendalam mengenai kehidupan penuh masalah yang dialami para perempuan ini, keempat sutradara juga menunjukkan sentuhan pribadi mereka. “Saya awalnya sempat ragu karena belum pernah menyutradarai film yang ceritanya bukan saya yang membuat. Tetapi, setelah diyakinkan dan memang pada kenyataannya kita sebagai sutradara boleh turut mengembangkan cerita bersama-sama, saya ikut di dalamnya, apalagi film ini temanya perempuan,” ujar Upi. “Di
Perempuan Punya Cerita
proyek ini, kita sebagai sutradara diberi kebebasan dan kesempatan untuk menginterpretasikan skrip dan menuangkannya ke dalam bahasa gambar yang kita pilih sendiri. Jadi, memang sentuhan personal masing-masing sutradara akan terlihat di film ini,” imbuh Lasja. Sementara itu, digandengnya Fatimah dalam film ini diakui oleh Nia juga untuk menyajikan “cita rasa” yang berbeda. “Sebagai orang berdarah Indonesia yang lahir, besar, dan tinggal di Amerika, ini adalah sebuah berkah kesempatan yang diberikan kepada saya untuk ikut berkontribusi dalam perfilman Indonesia dan mengangkat isu perempuan,” papar Fatimah.
Film ini menunjukkan berbagai gaya, atmosfer, dan gaya hidup yang benar-benar ada dalam keseharian perempuan Indonesia. Namun demikian, film ini juga menampilkan sudut pandang laki-laki dengan menampilkan kondisi psikologis dari setiap laki-laki di cerita ini. Film ini menjadi sebuah film layar lebar kolektif yang unik dan dapat memberikan sebuah sensasi dramatis yang berbeda kepada penonton.
PEREMPUAN PUNYA CERITA menampilkan deretan pemain utama Rieke Diah Pitaloka (Cerita Pulau), Shanty (Cerita Cibinong), Kirana Larasati (Cerita Yogya) dan Susan Bachtiar (Cerita Jakarta). Sementara itu deretan pemain pendukung terdiri dari mereka yang baru maupun sudah dikenal dalam perfilman Indonesia seperti Sarah Sechan (berperan sebagai penyanyi dangdut klub Merem Melek), Winky Wiryawan, Fauzi Baadila, Arswendy Nasution, Ratna Riantiarno dan Tarzan.
PEREMPUAN PUNYA CERITA menjadi film penutup JIFFEST 2007 pada 16 Desember 2007 dan mulai tayang di bioskop pada 17 Januari 2008.
Info lebih lanjut:
www.kalyanashira.com
www.kalyanshira.com/perempuanpunyacerita www.kalyanashira.com/chantsoflotus
Kontak publicist:
Ade Kusumaningrum – 0813 19349157
Bonnie – 0818 735075
|
|
 |
 |
 |
|
 |
 |
 |
 |
|
|
 |
 |
 |
 |
|